Jari kaki yang memerah

“Kamu yakin ngga pengen mama ikut” suara itu tidak asing bahkan hafal .. iya suara ibu dengan nada khawatirnya yang tingkat kekhawatirnya melebihi batas dimana bagiku umurku tak pantas lagi mendapatkan perlakuan seakan aku akan membuat dunia dan seisinya antah belantah.

“ yaa.. kan aku sudah bilang tadi malam, semisal mama mau ikut yakgapa” akupun menjawab dengan sedikit rasa kesal
“ah nanti ganggu kamu, sudahlah mama dirumah saja sama pa’mu” balasanya.

Seolah olah akupun selalu yang membuatnya kebingungan, bahkan membuat khawatirnya makin bertambah padahal dari sekian pertanyaan dan dugaannya adalah kekhawatiran, kecurigaan dan bayang bayang kejadian kejadian yang ada didalam tv atau bisa dibilang sinetron, mungkin ibuku adalah salah satu penggemar drama berlebihan itu.

..padahal jangankan membingunkan menyakinkan untuk tidak khawatir saja sulitnya minta ampun..

Waktupun menunjukan ke persetujuan yang telah disepakati, pukul 10 pagi waktu indonesia bagian barat. Baju berwarna merah muda dilapisi jaket jeans, bawahan yang lebar dan megar bermotif stripe dengan kain kepala berwarna senada dengan bajuku, hijab sebutannya… menemani perjalananku hari itu. 

Yaaa perjalanan melanjutkan usaha keclku agar bisa lebih dan terus berkembang, aku telah melahirkannya dan aku akan terus membesarkannya meski waktuku lebih banyak dikampus menimba ilmu dan kantor menggali emas.

Tibaku distasiun keberangkatan tanpa ibu yang menemaniku, jari kakiku mulai terasa perih akan gesekan alas kakiku. akupun bingung bagaimana aku bisa tiba dipusat perbelanjaan kain dengan menggunakan commuter line, karna keseharianku ditemani dengan sepeda motor. Akupun memesan tiket keberangkatan menuju st jatinegara sesuai dengan kesepakatan aku dan teman yang baru kukenal kurang 2 bulan di kelas pagi.

Saat itu akupun masih bimbang apakah aku tidak akan dikenakan pinalti sebab perjalananku masih sekitar -/+ 5 stasiun lagi sedangkan biaya perjalanan itu hanya melewati 2 stasiun. Akupun mengirimi pesan kepada 2 temanku yang manakala bersahabat dengan perjalanan menggunakan kereta api, 1 2 pesan kukirim tidak dibalas oleh mereka namun mereka langsung menelphone ku, iya rani dan delfi . dengan panjangnya iya membimbingku bagaimana aku bisa tiba. Setelah itu aku masih tidak paham betul, aku membeli tiketnya kembali. 

Baiknya mereka dan kepedulian mereka adalah ketulusan yang ku terima, aku ingat dengan seseorang yang pernah berkata padaku. “Salah satu rezeki yang Allah kasih ke kita yaitu dengan selalu dikelilingi orang-orang baik.” itulah jawabannya

Tibaku dipusat perbelanjaan dengan temanku itu, ya kami sama sama berjualan jilbab buatan tangan sendiri, jarak dari stasiun kelokasi cukup jauh. Dahiku penuh dengan keringat, temanku itu tipikal pemberani dan mandiri gimana tidak aku tertinggal oleh langkahnya yang pesat dan cepat, aku dibelakang sedangkan ia melangkah dengan yakin sendirian didepan mulai dari berangkat ataupun pulang..

2-10 toko kain kami jajaki , warna warni kain kami dapati dengan jari kakiku yang makin memerah dan sedikit membengkak. Akupun tak lupa sempatkan menunaikan kewajibanku untuk menunaikan sholat 5 waktu, air suci itu membasahi jari kakiku yang merah dan bengkak, nyaman rasanya sedikit mengurangi rasa sakitnya.

Akupun kembali pulang . lagi lagi dengan kakiku yang makin tidak tertahan. Tiba ku dipenghujung pertemuan kami berpisah dist manggarai dengan salam “ hati hati aisyah, hati hati kak riska” akupun memberi pesan itu juga. Kami meneruskan perjalanan pulang dan kembali meneruskan perjuangan, menyelesaikan urusan..

Sampai bertemu lagi Fatimah dan adik adik gemash dengan jari kakiku yang memerah...


                                                                                          

Komentar

Postingan Populer